Rabu, 28 April 2010

Sejarah Singkat munculnya dan Karakteristik kota Kolonial di Indonesia

Bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa Belanda dalam waktu yang sangat lama, yaitu ±350 tahun. Penjajahan yang sangat panjang tersebut tentunya menyebabkan perubahan dalam berbagai bidang. Salah satunya adalah terciptanya kota-kota kolonial di Indonesia.

Pembentukan kota sebenarnya telah dimulai sejak jaman Pra-Sejarah khususnya setelah dikenal sistem becocok tanam( Food Gathering ). Munculnya budaya bercocok tanam ini sedikit demi sedikit memudarkan budaya nomaden (berpindah-pindah tempat tinggal), dari sinilah manusia mulai menetap. Bersamaan dengan ditemukannya system becocok tanam ini, muncul pula struktur sosial yang bisa disebut desa. Suatu wilayah dapat menghasilkan bahan pangan dengan jumlah dan komoditi yang berbeda dengan wilayah lainnya. Hal ini menyebabkan munculnya sistem ”perdagangan” yang menjadi faktor perubahan dari sebuah village menjadi overgrown village, yang merupakan cikal bakal kota.

Terdapat tiga teori pembentukan kota. Teori-teori tersebut yaitu teori efisiensi, teori surplus dan teori konflik/integrative. Teori efisiensi menyatakan bahwa sebuah kota terbentuk karena sifat kota yang efisien, banyak aktivitas yang dapat dilakukan dalamnya. Teori surplus melihat bahwa surplus makanan merupakan faktor utama dalam pembentukan kota. Sedangkan teori konflik dan integratif sama-sama melihat adanya peran penting lembaga politik kuno dalam perkembangan kota-kota. Namun ketiga teori tersebut berbeda dalam menafsirkan peran lembaga politik tersebut.

Keruntuhan bangsa Romawi mengakibatkan perkembangan kota menjadi pasang-surut, bahkan hanya beberapa kota saja yang dapat bertahan disebebkan popularitas kota menurun, dan tidak memiliki daya tarik.

Perubahan yang besar terjadi sekitar abad ke-17, yaitu setelah adanya Revolusi Industri yang melahirkan sistem kapitalis-industrial di kot-kota. Sistem ini menyebabkan perkembangan kota lebih jauh lagi. Ekonmi kota berubah menjadi perekonomian pasar. Aturan dan norma sosial dalam masyarakat kota menjadi lebih didasarkan oleh paham individualisme, kebebasan, dan rasionalitas. Fungsi Institusi kota menjadi semakin terspesialisasi dan organisasi sosial di kota dijalankan birokrasi yang mengedepankan prinsip-prinsip rasionalitas dan efesiensi.

Kota-kota tua di Indonesia ditemukan di wilayah pedalaman, dan di pesisir-pesisir pantai. Pada kota-kota pesisir inilah cikal bakal kota penting yang memegang peranan penting dalam perdagangan internasional. Kota-kota kolonial di pesisir ini memiliki karakteristik yang lebih kompleks, karena “bergaul” dengan budaya-budaya asing dibanding dengan kota-kota yang berada di pedalaman. Hal ini berkaitan erat dengan aktivitas sosial masyarakat pendukungnya, yang banyak berinteraksi dengan orang asing. Sangat banyak perpaduan-perpaduan budaya lokal dengan budaya asing, hal itu tampak pada jenis, bentuk, dan corak bangunan maupun sarana kehidupan lain. Bangunan-bangunan pada umumnya berupa pelabuhan dagang, dan bangunan lainnya yang mendukung aktivitas perdagangan terutama dengan bangsa asing.

Kota-kota yang berada di pedalaman juga terletak berdampingan dengan Keraton, tidak beda dengan yang ada di pesisir. Hal ini sangat berkaitan dengan kepentingan politik penjajah Belanda untuk mendekati raja-raja Jawa. Meskipun berdampingan, batas area kota kolonial dengan Keraton sangat jelas. Ini menyebabkan terjadinya dua pemerintahan dalam satu wilayah. Desakan kota kolonial terhadap keraton ini berpengaruh pada kehidupan sosialnya. Pada mulanya terjadi ketidak aturan pola kehidupan karena pengaruh Belanda maupun ketidak aturan tata kota.

Keinginan orang-orang Belanda untuk membangun kota yang sama dengan yang ada di Negeri Belanda, oleh karena itu arsitektur bangunan di kota kolonial sangat mirip dengan konstruksi bangunan di Negeri Belanda. Bangsa Belanda sangat membutuhkan komoditi-komoditi yang dihasilkan di Indonesia. Untuk mempertahankan dan melancarkan kehidupan sosial di kota maka dibangunlah sarana transportasi yang mencukupi. Sarana transportasi menjadi sangat penting ,khususnya Kereta Api, dalam proses kolonialisasi Belanda di Indonesia. Dengan cukupnya sarana transportasi, maka aktivitas di dalam kota maupun hubungan antar kota menjadi lancar. Hal ini menjadi salah satu ciri khas karakteristik kota-kota kolonial di Indonesia.

Jika kita menilik beberapa kota kolonial, dapat dijadikan contoh untuk melihat karakteristik kota kolonial. Sebagai contoh adalah kota kolonial Surabaya dan Pasuruan sebagai kota di pesisir, serta kota Blitar dan Malang sebagai kota di pedalaman. Dengan perbandingan kota-kota tersebut dapat ditarik persamaan karakteristik kota kolonial, yaitu arah hadap bangunan pada umumnya, pola bujur Kereta Api, pola jari-jari jalan, dan arah perkembangan kota ( Studi Perbandingan Pola Struktur Pusat Pemerintahan Kota Kolonial Antara Kota-Kota Pesisir Dan Pedalaman Di Jawa Timur (Tinjauan Kota Surabaya dan Pasuruan dengan Kota Malang dan Blitar) Septiana Hariyani*, Christia Meidiana** dan Susilo Kusdiwanggo*** ). Pada kota-kota kolonial juga terdapat benteng-benteng ,sebagai ciri lain kota kolonial, yang digunakan untuk mengantisipasi serangan-serangan dari pemberontak maupun dari bangsa lain yang ingin mengambil alih pemerintahan Belanda di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar